User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Suatau hari hari Abdullah bin Ja’far r. a berjalan melalui sebuah kebun buah-buahan di Madinah Al Munawarah yang di jaga oleh seorang budak bangsa Abyssinia.

Abdullah bin Ja’far melihat budak itu sedang makan sementara seorang anjing sedang duduk di depannya. Setiap kali budak itu memasukan sepotong makanan ke dalam mulutnya, ia melemparkan sepotong makanan yangsama kepada Anjing itu.

Abdullah bin Ja’far tertegun menyaksikannya. Maka setelah mereka selesai makan, Ibnu ja’far menghampiri budak itu dan bertanya, “siapa majikan mu?”

Budak itu menjawab, “akiu milik keturunan Utsman r.a”

Ibnu ja’far berkata, “aku melihat kamu melakukan yang aneh.”

Budak itu bertanya, “apakah itu?”

Ibnu ja’far menerangkan. “Setiap potong makanan yang kamu makan, setelah itu kamu berikan sepotong kepada anjingmu,”

Budak itu berkata, “Anjing ini telah menemaniku saya selama bertahun-tahun dan saya harus memberikan bagian yang adil dari makanan saya.”

Ibnu ja’far berkata, “Seekor anjing dapat diberi makanan yang lebih rendah kualitasnya.”

Kata budak itu, “Saya malu di hadapam Allah apabila saya makan sementara salah satu makhluk-Nya memandang saya dengan lapar.”

Maka Abdullah Ibnu ja’far kembali dan menemui keturunan Ustman r.a dan mengatakan bahwa ia datang untuk memohon suatu kebaikan.”

Mereka berkata, “Beri tahu kami.”

Ia menjawab bahwa ia ingin membeli kebun buah mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka akan sangat gembira untuk memberikan kebun itu sebagai hadiah kepadanya. Mereka mendesaknya agar mau menerima kebun itu dengan gratis, tetapi Ibnu ja’far bersikukuh bahwa ia harus membayarnya.

Akhirnya di setujuilah harga kebun itu dan Ibnu ja’far membelinya, kemudian ia mengatakan ingin juga memiliki budak yang bekerja di kebun itu. Namun keluarga itu keberatan karena budak itu telah tinggal bersamanya sejak masih anak-anak dan akan merasa kehilangan apabila berpisah dengannya.

Ibnu ja’far terus mendesaknya hingga mereka bersedia memberikn budak itu kepadannya. Setelah membeli kebun itu dengan budaknya. Ibnu ja’far pergi ke kebun buah-buahan itu dan berkata kepada budaknya itu, “Saya telah membeli kebun ini dan juga dirimu.”

Budak itu mengucapkan selamat dan berkata, “Semoga Allah SWT, memberkati engkau dalam pembelian ini hanya saya merasa sedih berpisah dengan tuan saya yang telah memelihara saya sejak kecil.”

Abdullah Ibnu ja’far r.a berkata, “Saya memerdekakanmu dan memberikan kebun ini sebagai hadiah kepadamu.”

Mendengar itu budak itu berkata, “Jika demikian, saya mohon engkau bersaksi bahwa saya menjadikan kebun ini wakaf pribadi bagi keturunan Utsman r.a”

Ibnu ja’far r.a sangat terkejut dengan pernyataan ini, kemudian ia pulang dengan mendoakan keberkahan kepada Allah kepada Allah SWT. Bagi budak itu (Musamirat).

 

*Di Kutip dari buku: “Fadhilah Sedekah" karya Maulana Muhammad Zakariyya dan Al-Kandahlawi Rah. A.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

            Pada suatu hari, seorang shaleh keluar untuk berburu. Tiba-tiba ia bertemu seekor ular yang sedang ketakutan. Ular itu berteriak, “tolong selamatkan aku dari musuh yang mengejarku!”

            Orang shaleh pun bermaksud menutupi ular itu dengan kainnya, tetapi ular itu berkata, “orang yang mengejarku akan tetap mengetahuinya”.

            “Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya orang shaleh.

            Si ular berkata, “Jika memang kamu ingin berbuat baik, ingin menyelamatkanku, bukalah mulutmu agar aku bisa masuk kedalamnya!”

            “aku takut kepadamu” sahut orang shaleh. Lalu ular tersebut berjanji tidak akan menyakitkannya dan mengatakan bahwa ia adalah umat Muhammad SAW. Orang shaleh pun membuka mulutknya, lalu melompatlah ular tadi dan masuk kemulutnya. Tiba-tiba datanglah seseorang sambil membawa pedang dan menanyakan keberadaan ular tersebut. “Aku tidak melihatnya” jawab orang shaleh.

            Setelah itu, ia beristigfar seratus kali atas ucapannya. Setelah pemburu ular tadi berlalu, si ular menengok keluar untuk melihat si pemburunya. Orang shaleh mengatakan bahwa pemburunya sudah pergi, lalu menyuruh ular tadi agar keluar.

            Ular berkata, “Sekarang pilihlah bagimu salah satu kematianmu, aku gigit jantungmu atau aku lubangi hatimu?”

            Orang shaleh berkata “Maha suci Allah, mana janji yang engkau ucapkan?”

            Sang ular berkata, “Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang lebih goblokdaripada kamu. Apakah kamu lupa perseteruanku dengan nenek moyangmu, sehingga ia dikeluarkan dari surga? Dan apa yang mendorongmu melakukan kebaikan kepada yang tidak semestinya mendapat kebaikan?”

            “kalau aku memang harus mati, berilah aku kesempatan sebentar untuk melakukan sesuatu di gunung ini!” pinta orang shaleh.

            “Terserah” Jawab ular. Lalu orang shaleh menegadah ke langit dan berdoa. “Wahai zat yang Maha Pengasih! Kasihanilah aku dengan kasih-Mu yang lembut, wahai zat yang Maha Pengasih lagi Maha Kuasa, aku mohon kepada-Mu, demi kekuasaan-Mu. Menegakan singgasana, sementara singgasana tersebut tidak tahu di mana Engkau menetap, wahai Zat yang Mahabijak, Zat yang Mahatahu, Mahatinggi, Mahahidup, Mahakuat. Ya Allah, tidak ada yang menyelamatkanku dari ular ini melainkan Engkau.”

            Lalu ia berjalan kearah puncak gunung, tiba-tiba muncullah seorang kakek tua yang wajahnya bersinar, harum, dan pakaian bersih. Ia memberikan dedaunan yang berwarna hijau, dan berkata, “Makanlah daun-daun ini!” lalu orag shaleh pun memakannya, dan tiba-tiba keluarlah ular dari perutnya dalam keadaan sudah terpotong-potong dan seketika hilanglah rasa sakitnya.

            Orang shaleh berkata pada kakek itu, “Siapakah engkau, wahai penyelamatku?”

            “Ketika kamu berdoa kepada Allah, maka para malaikat di langit menjadi ribut, lalu Allah berfirman, “Demi keagungan dan kemuliaan-Ku! Aku telah melihat apa yang dilakukan ular tersebut kepada hamba-Ku. Lalu Allah mengutusku pergi ke surga untuk mengambil daun Thuba agar diberikan padamu. Aku adalah malaikat yang bernama Ma’ruf (kebaikan), dan tempatku di langit. Teruslah berbuat baik, karena itu akan menjagamu. Walaupun disia-siakan oleh orang yang kita beri kebaikan, tetapi Allah tidak akan menyia-nyiakannya”

 

 

 

*Di Kutip dari buku: “Jangan bersedih! Inilah 195 cerita Hikmah Penyejuk hati” karya Mohammad A Syuropati.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 

Wakidi ra menceritakan : aku mempunyai dua orang sahabat, seorang dari Bani Hasyim dan seorang laki bukan dari Bani Hasyim dan kami sangat akrab satu sama lain bagaikan tiga serangkai yang tidak terpisahkan.

            Aku dalam keadaan susah ketika Idul Fitri hampir tiba. Istriku berkata, “Kita dapat sabar dalam setiap keadaan, tapi aku tidak tahan melihat anak-anak menangis. Hatiku hancur apabila menyaksikan mereka berpakaian lusuh sementara anak-anak yang lain berpakaian baru dan bagus pada hari raya ini. Apabila engkau dapat memberikan aku sejumlah uang, aku akan menjahitkan pakaian baru buat mereka”.

            Mendengar keluhan ini maka aku menulis surat kepada kawanku dari Bani Hasyim dan menceritakan keadaanku ini. Kemudian ia mengirimkan kepadaku sebuah tas tertutup berisi seribu dirham dengan pesan bahwa aku boleh menggunakan uang ini sesukaku.

            Hampir saja aku menikmati hadiah yang demikian berharga itu, aku menerima surat dari sahabatku yang lain yang mencerikan kepadaku mengenai kemiskinan dan kebutuhannya yang sangat mendesak. Maka aku mengirimkan uang yang masih tertutup itu kepada sahabatku. Merasa malu pulang dengan tangan kosong, aku tinggal di masjid selama dua hari. Pada hari ketiga aku pulang kerumah dan menceritakan kepada istriku kisah tas tertutup itu. Luar biasa, ia tidak mengeluh sedikitpun bahkan menghargai kedermawananku itu dan berkata bahwa aku telah berbuat baik kepada sahabatku.

            Ketika duduk sedang bercakap-cakap, sahabat Bani Hasyimku datang dengan tas yang sama yang pernah dikirimkannya kepadaku tiga hari yang lalu dan berkata , “Ceritakan kepadaku perihal tas ini. Bagaimana tas ini bisa kembali kepadaku?”

            Maka aku menjelaskan bahwa aku telah mengirimkannya kepada sahabat yang satunya segera setelah menerima. ia mengatakan, ketika aku menerima suratmu, aku tidak memiliki apa apa kecuali tas ini, yang aku kirimkan kepadamu. Tetapi kemudian aku menulis surat kepada sahabat kita untuk meminta pertolongan. Aku terkejut ketika ia mengirimkan kepadaku tasku yang masih tertutup yang telah aku berikan kepadamu. Karena ingin tahu mengapa ini terjadi, maka aku datang mengunjungimu”

            Setelah itu kami berikan seratus dirham kepada istriku dan membagikan sisanya sebanyak sembilan ratus dirham sama rata kepada kami bertiga.

            Entah bagaimana Khalifah Maimun Rasyid mengetahui peristiwa ini dan memanggil kami ke istananya. Maka aku menceritakan hal ini dan ia memberi kami hadiah tujuh ribu  dirham. Seribu dirham untuk istriku dan masing masing dua ribu dirham untuk kami. (it-haf)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Santri adalah sebutan untuk para siswa dari pondok pesantren

©2020 GoHafidz.com. Email: info@gohafidz.com